Monday, March 10, 2014

Bukti Sejarah Material, Budaya Immaterial, Fakta dan Sumber Sejarah Sumatera Selatan



Bukti Sejarah Material Sumatera Selatan

1. Jempatan Ampera
Jembatan Ampera yang menjadi Lambang Kota Palembang, awalnya jembatan ini dibangun pada masa penjajahan jepang di Indonesia untuk menghubungkan daerah diseberang ulu dan seberang ilir, sangat indah dilihat di malam hari dengan lampu jalan disepanjang jembatan memberikan pantulan cahaya keemasan pada sungai Musi, tempatnya masih didalam Kota Palembang. Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965


Jembatan Ampera

 

2. Benteng Kuto Besak Palembang
Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional, serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan, ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.
Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797.


Benteng Kuto Besak (sumber: turisku.com )

3.Museum Sultan Mahmud Badaruddin II


Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo, dibangun seiring dengan pembangunan Masjid Agung Palembang. Saat kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam dipegang Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau SMB I (1724-1758 M), muncul ide untuk membangun masjid baru Sebelumnya, Keraton Palembang yang dibangun Ki Mas Hindi atau Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukmin Sayyidul Imam (1659-1706 M) terletak di kawasan Beringin Janggut (kini kompleks pertokoan Beringin Janggut).

Masjid kesultanan pun terletak tidak jauh dari keraton, yaitu di kawasan yang kini dikenal sebagai Jl. Masjid Lama. SMB I membangun Masjid Sulton (kini Masjid Agung SMB II) pada 1 Jumadil Akhir 1511 H dan diresmikan pemakaiannya pada 28 Jumadil Awal 1161 H. Keraton Kuto Lamo (pada saat dibangun, tentu belum bernama demikian) ini dibangun persis di tepi Sungai Tengkuruk dan berjarak sekitar 100 meter dari Masjid Sulton.

4.Rumah Limas


Rumah Limas (Sumber: trijayafmplg.net)

Di Palembang masih dapat kita jumpai rumah khas Sumsel yang disebut
Rumah Limas. Rumah ini atapnya berbentuk limas, berdinding papan
dengan pembagian ruangan yang bertingkat-tingkat (kijing). Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang di atas tiang-tiang yang tertanam di tanah. Rumah ini mempunyai ornamen dan ukiran yang khas.

Pengaruh Islam sangat nampak pada ornamen maupun ukirannya. Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400-1000 meter atau lebih, yang didirikan di atas tiang kayu Orgelen dan kayu Tembesu.

5. Air Terjun Bidadari
Tidaklah mengherankan, mengapa Syuting Pembuatan Film “Si Pahit Lidah” yang terkenal itu mengambil setting di lokasi ini. Keindahan Air Terjun Bidadari memang menjadi daya tarik tersendiri. Selain menyajikan keindahan alam yang alami, lokasinya pun tidaklah terlalu sulit untuk dicapai. Air Terjun Bidadari terletak di desa Karang Dalam Kecamatan Pulau Pinang kurang lebih 8 km dari kota Lahat.
Disekitar lokasi air tTerjun tersebut, ada 3 Air Terjun (Air Terjun Bujang Gadis, Air Terjun Sumbing dan air terjun Naga) lagi yang dapat dinikmati dengan menyusuri aliran dari Air Terjun Bidadari.
Dengan dipandu penduduk sekitar yang sudah mengenal daerah tersebut, anda dapat menikmati keindahan ke 4 air terjun yang alami tersebut dan alam sekitarnya dengan menyusuri sepanjang aliran airnya.
Anda bisa memulai dari atas (air terjun Bidadari) sampai kebawah (Air Terjun Naga), atau sebaliknya. Pengalaman menyusuri air terjun tersebut akan menjadi pengalaman tambahan bagi anda yang senang berpetualang dan menyukai tantangan.


6. Air Terjun Curup Panjang
Wisata Lahat yang tempatnya berada di Desa Pulau Pinang, Kecamatan Pulau Pinang.

7. Air Terjun Lawang Agung


Wisata Lahat di Desa Lawang Agung Lama, Kecamatan Mulak Ulu, ketinggian 30-50 m, mengalir di Sungai Linang Kiri, ada jembatan gantung, bisa berenang, memancing.

8. Air Terjun Tebat Bukit 
Wisata Lahat yang letaknya berada di Desa Gedung Agung, Kecamatan Kota Agung

9. Bukit Runcing
Wisata Lahat yang lokasinya berada di Desa Sukaraja, Kecamatan Kota Agung.

10.Bukit Serelo 
Wisata Lahat di Desa Perangai, disebut juga dengan Gunung Jempol karena bentuknya mirip jempol manusia, dengan pemandangan Sungai Lematang.



Bukit telunjuk (from freewebs.com)

 

11. Sekolah Gajah Perangai

Sekolah Gajah ini terletak di Desa Perangai Kabupaten Lahat, lokasinya di kaki Bukit Serelo. Gajah-gajah tersebut dilatih supaya jinak dan dapat membantu pekerjaan manusia seperti mengankut barang-barang dan kayu. Tempat ini merupakan salah satu penangkaran gajah di Indonesia


12.Watervang.  
Terdapat di Kelurahan Watervang, kecamatan Lubuklinggau Timur I;


Watervang (sumber:google.com)

13. Bukit Sulap
Di Kelurahan Ulak Surung Kecamatan Lubuklinggau Utara II. Kawasan objek wisata ini merupakan objek wisata alam yang berbentuk bukit yang cukup besar dengan ketinggian ± 700 m dari permukaan laut dengan rimbun tumbuhan alami dan udara yang sejuk. Dari puncak bukit sulap pengunjung dapat leluasa memandang keindahan alam kota lubuklinggau, juga menarik jika melihat pemandangan kota dimalam hari.


Bukit Sulap (Sumber: google.com)

14. Air Terjun Temam. 
Di Kelurahan Rahma Kecamatan Lubuklinggau Selatan I;


15. Museum Subkoss Garuda
(Museum Subkoss Garuda (Budaya) Kelurahan Pasar Pemiri Kecamatan Lubuklinggau Barat I;

Museum Subkoss Garuda

16. Air Terjun Sei Sando (Alam) Kelurahan Watas Kecamatan Lubuklinggau Barat I;


Air Terjun Sei Sando (Sumber: apridona91.wordpress.com)

17. Benteng Ulak Lebar (Budaya) Kelurahan Sidorejo Kecamatan Lubuklinggau Barat II;
18. Danau Malus (Alam) Kelurahan Petanang Kecamatan Lubuklinggau Utara I;
19. Gua Batu Naga (Alam) Kelurahan Jukung Kecamatan Lubuklinggau  Selatan I;
20. Air Terjun Curuq Layang. Kelurahan Jukung Kecamatan Lubuklinggau Selatan I;
21. Gua Batu (Alam) Kelurahan Taba Jemekeh Kecamatan Lubuklinggau Timur I;
22. Air Terjun Taqli (Alam) Kelurahan Petanang Kecamatan Lubuklinggau Utara I;
23. Rumah Adat (Budaya)  Kelurahan Jukung Kecamatan Lubuklinggau  Selatan I;
24. Rumah Adat (Budaya) Kelurahan Batu Urip Kecamatan Lubuklinggau Timur I;


Rumah Adat Lubuk Linggau (Sumber: google.com)

Budaya Immaterial
Nilai Budaya
Provinsi Sumatera Selatan meru­pakan salah satu daerah di Indonesia yang secara potensial memiliki keka­yaan budaya sejak zaman Sri­wijaya, ketika daerah ini menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, pendi­dikan, dan kebudayaan. Sesuai arah per­kembangannya, sehingga menjadi salah satu pusat kebudayaan serta daerah tujuan wisata di Indonesia. Upaya pelestarian dan pengembangannya melalui pendidikan yang mengandung budaya daerah bernilai tinggi.

Sikap budaya masya­rakat dapat dilihat dari berbagai hasil budaya masyarakat atau kegiatan me­reka dalam berbagai dimensi kehi­dupan, antara lain penyelenggaraan upacara adat, misalnya upacara perkawinan, dengan bahasa dan logat khas Sumatera Sela­tan seperti yang selama ini dilakukan, merupakan kegiatan yang perlu terus dipertahankan dalam upaya meles­tarikan bahasa daerah

  
Sumber Sejarah

1. Prasasti Kedukan Bukit

 

 
 
Kota ini juga dijuluki Bumi Sriwijaya, karena pada abad ke-7 s/d 13 Masehi, Sumatera Selatan menjadi basis kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dengan Palembang sebagai ibu kota kerajaan. Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya dibangun pada tanggal 17 Juni 683 Masehi dengan raja pertama Jayanasa. Pada masa jayanya Sriwijaya dikenal sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan agama Budha di Asia Tenggara

Prasasti Kedukan Bukit memberikan catatan memberi suara Pallava dimana ditulis dalam Bahsa Melayu tua yang di deklarasikan oleh Dapunta Hiyang Sriyajanasa dan dua puluh ribuan tentara membangun suatu kerajaan yang disebut Sriwijaya pada tahun 606 Saka atau 683 AD di sekitar kaki Bukit Siguntang.

Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Sriwijaya telah menjadi yang kerajaan yang besar dan sangat berpengaruh di dalam kerajaan bahari dan Indonesia Bagian tenggara Asia sepanjang Abad 7-13.


2. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya


Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (sumber: wikipedia.org)

Kerajaan Sriwijaya Taman Arkeologis terletak di Karanganyar, kecamatan Ilir Barat II, kotamadya Palembang dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994.

Peristiwa yang sangat penting ditandatangani oleh penggantian tiruan Kedukan Bukit catatan yang menandakan kutub historis dari kelahiran Sriwijaya Kerajaan. Taman Arkeologis Kerajaan Sriwijaya dibangun di Karanganyar. pada dasarnya menurut konsep dari keuntungan dan pemeliharaan warisan/pusaka dan sisa jaman kuno maka ditempatkan di lokasi ini.
Konsep ini Tujuan untuk menghargai nilai-nilai yang budaya dan memperkuat kebanggaan nasional dan bermanfaat bagi turis/wisatawan dan nilai-nilai bidang pendidikan.


3. Ada juga suatu pajangan batu bata struktur menggali dari Pulau Cempaka

Saluran yang saling behubungan ditemukan di dalam taman dan dapat dilalalui dari arah Musi sungai.
Menurut penafsiran yang dilakukan melalui pemotretan udara Karanganyar merupakan lokasi mewakili pusat air seperti berliku-liku di dalam awal Sriwijaya kerajaan. Penggalian dari lokasi telah muncul sisa batu bata struktur, fragmen tembikar, keramik, perahu merusak dan materi arkeologis yang lain.
Semua data yang betul-betul menunjukkan bahwa Karanganyar lokasi merupakan suatu posisi penting sepanjang umur/zaman Kerajaan Sriwijaya. Data itu adalah juga didukung oleh catatan seperti: patung dan benda-bendaarkeologi lain ditemukan di Palembang dan sekitarnya.
Dalam kaitan dengan pertimbangan dari bukti historis dan arkeologis, Karanganyar adalah daerah yang dipilih untuk menjadi penempatan Taman Arkeologis Kerajaan Sriwijaya.

4. Prastasi Talang Tuo (684 M), di dekat Palembang

 

Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang, dan dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya.
Keadaan fisiknya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50cm × 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuna, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor D.145. Isi Prasasti yaitu Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Śrī Jayanāśa

5. Prasasti Telaga Batu, di Palembang

Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi tentang keberadaan suatu vihara di sekitar prasasti. Pada tahun-tahun sebelumnya ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.
Prasasti Telaga Batu dipahatkan pada sebuah batu andesit yang sudah dibentuk sebagaimana layaknya sebuah prasasti dengan ukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. Di bagian atasnya terdapat hiasan tujuh ekor kepala ular kobra, dan di bagian bawah tengah terdapat semacam cerat (pancuran) tempat mengalirkan air pembasuh. Tulisan pada prasasti berjumlah 28 baris, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.
Tulisan yang dipahatkan pada prasasti cukup panjang, namun secara garis besar isinya tentang kutukan terhadap siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah dātu. Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang berkategori berbahaya dan berpotensi untuk melawan kepada kedatuan Sriwijaya sehingga perlu disumpah
Disebutkan orang-orang tersebut mulai dari putra raja (rājaputra), menteri (kumārāmātya), bupati (bhūpati), panglima (senāpati), Pembesar/tokoh lokal terkemuka (nāyaka), bangsawan (pratyaya), raja bawahan (hāji pratyaya), hakim (dandanayaka), ketua pekerja/buruh (tuhā an vatak = vuruh), pengawas pekerja rendah (addhyāksi nījavarna), ahli senjata (vāsīkarana), tentara (cātabhata), pejabat pengelola (adhikarana), karyawan toko (kāyastha), pengrajin (sthāpaka), kapten kapal (puhāvam), peniaga (vaniyāga), pelayan raja (marsī hāji), dan budak raja (hulun hāji).
Prasasti ini salah satu prasasti kutukan yang paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan menganggap dengan keberadaan prasasti ini, diduga pusat Sriwijaya itu berada di Palembang dan pejabat-pejabat yang disumpah itu tentunya bertempat-tinggal di ibukota kerajaan. Soekmono berpendapat berdasarkan prasasti ini tidak mungkin Sriwijaya berada di Palembang karena adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa yang durhaka kepada kedatuan, dan mengajukan usulan Minanga seperti yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus sebagai ibukota Sriwijaya.

Fakta Sejarah
1. Batu Macan 

Batu Macan

Batu macan yang terdapat di Kecamatan Pulau Pinang, Desa Pagar Alam Pagun ini sudah ada sejak zaman Majapahit pada abad 14. Batu macan ini merupakan simbol sebagai penjaga (terhadap perzinahan dan pertumpahan darah) dari 4 daerah, yaitu: Pagar Gunung, Gumai Ulu, Gumai Lembah dan Gumai Talang.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari penjaga situs setempat yakni Bapak Idrus, kisah adanya batu macan terkait dengan legenda si pahit lidah yang beredar di masyarakat. Pada waktu itu, si pahit lidah sedang berjemur di batu penarakan sumur tinggi. Pada saat sedang berjemur, si pahit lidah melihat seekor macan betina yang sering menggangu masyarakat desa, kemudian oleh si pahit lidah, macan tersebut di ingatkan agar tidak mengganggu masyarakat desa. Namun, macan tersebut tidak menuruti apa yang disampaikan oleh si pahit lidah. Padahal si pahit lidah sudah menasehati macan tersebut sampai tiga kali, sampai akhirnya si pahit lidah berucap “ai, dasar batu kau ni”. Akhirnya macan tersebut menjadi batu. Setelah diselidiki, ternyata macan tersebut adalah macan pezinah dan anak yang sedang diterkamnya adalah anak haram. Sedang macan yang ada di belakangnya adalah macan jantan yang hendak menerkam macan betina tersebut.
Apabila ada wanita disuatu desa diketahui berzinah, maka terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh si-wanita itu, yaitu: menyembelih kambing untuk membersihkan rumah, kemudian sebelum kambing tersebut dipotong, maka orang tersebut harus dikucilkan dari desa ke suatu daerah lain atau di pegunungan. Kemudian apabila wanita tersebut mengandung dan melahirkan, maka harus menyembelih kerbau. Setelah persyaratan tersebut dilakukan, maka wanita tersebut dapat diterima di masyarakat kembali.

2. Ribang Gayau
Wisata Lahat yang lokasinya berada di Desa Kedaton Terkul, Kecamatan Pulau Pinang.


Ribang Gayau

3. Rumah Batu

Wisata Lahat di Desa Kota Raya Lembak, Kecamatan Pajar Bulan, 80 km dari Kota Lahat, merupakan benda megalitik yang pada dindingnya terdapat lukisan kuno berupa makhluk-makhluk aneh.


Rumah Batu (Sumber: google.com)

0 comments:

Post a Comment